Assalamu alaikum,
Di sudut desa, bernama Maripari, saya dilahirkan. Besar dalam pelukan kabut dan hawa dingin Gunung Talagabodas. Kebiasaanku menulis surat untuk kawan-kawan terdekat sejak SD, perlahan tapi pasti mulai mengantarku ke tepian cita-cita. Meski belum sempurna, karir itu sedang saya bangun. Dari Garut ke Bandung-Bergeser sedikit ke kawasan Bogor. Di Kota Hujan ini, meniti jalan menuju jembatan keinginan. Cileungsi menjadi saksi, pahit getir perjuangan untuk bertahan hidup dengan sabar saya lalui. Di sudut kampung, namanya Pasirangin--saya menemukan identitas diri yang sebenarnya. Dari sini pula, banyak mengenal dunia tulis menulis, hingga akhirnya mengantarku di ujung jembatan penantian. 2 Januari 2005, saya terbang ke Aceh. Saat itu, semuanya masih dirundung lara. Aceh baru saja dihempas tsunami.
Tidak pernah terbersit sebelumnya untuk menetap di negeri seribu kubah (sebutan lain untuk Serambi Mekkah) ini.
Semuanya, mengalir seperti air hingga akhirnya kutemukan cinta di tepi barat negeri Iskandar Muda.=
Wassalam