Sayang Anak? Stop Bermain Game

MESKI sudah banyak saya baca bahaya game bagi anak-anak, setahun ini saya mengalah untuk anak, mengalah karena sayang anak.

Saya belikan mereka PlayStation (PS) untuk melepas penat mereka setelah sekolah. Begitu senangnya mereka. Karena itu yang selalu mereka minta, saat mereka bertandang ke rumah kawan-kawannya.
Ini juga solusi sesaat ketika itu, karena dua kali anak saya kedapatan diajak teman-temannya masuk ke salah satu warnet dengan fasilitas game online yang menggiurkan. Saat itu saya berfikir, lebih baik main di game di rumah dalam pengawasan, daripada anak keluyuran diajak teman-teman sebayanya.

Saya membatasi mereka--anak saya tiga orang--hanya boleh main dua jam sehari dan kadang dilanggar anak-anak.

Setahun berlalu, salah satu anak saya mulai mahir memainkan setiap jenis game,  terutama yang fighter dan aksi menantang lainnya dari setiap permainan yang ada. Sesekali segerombolan anak kecil nebeng main di rumah bersama anak-anak. Saya biarkan karena dunianya memang begitu. Pikir saya ketika itu.

Belakangan mulai ada perubahan perilaku, anak saya terlihat mulai agresif. Marah jika saya menyuruhnya berhenti, meski sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan mereka. Berhenti saat azan dan waktunya mengaji dan belajar. Ya, tetapi namanya anak-anak, melanggar itu biasa bagi mereka dan saya bisa memahaminya.

Semua teknis saya akali, agar permainan itu bisa berhenti pada saatnya, mulai dari setelan timer televisi. Mematikan aliran listrik yang anak-anak tidak tahu. Menukar posisi kabel ke layar monitor sehingga seperti terjadi kerusakan dan biasanya mereka akan berhenti dan beralih ke permainan di luar rumah bersama teman-temannya.

Rupanya, pintar kita menyiasati, cerdik pula mereka menemukan kesalahan teknis pemasangan dan gangguan yang menyebabkan PS tak bisa dimainkan.  Saya 'kalah'..., tidak tahu dari mana mereka mendapatkan cara memperbaiki dan menemukan kesalahan teknis tersebut.

Seminggu lalu, saya kemas semua peralatan PS itu, melihat gelagat yang mulai tak baik. Seiring anak-anak mulai disiplin menghafal Alquran mengaji di rumah. Apa yang terjadi? salah satu dari mereka protes ketidakhadiran PS di kesehariannya. Saya bertahan, tidak memberi kesempatan lagi untuk mereka.

Masalah tidak selesai! salah satu dari anak saya melakukan akasi boikot dengan bermalas-malas pergi ke sekolah. Jika pun pergi, syaratnya harus bisa bermain game kesayanganya.

Di sini ujian cukup berat, anakku protes beneran. Ia tak ingin sekolah sebelum PS dihadirkan kembali. Ia juga agresif, marah, melempar apa yang bisa dilempar hingga berteriak sejadi-jadinya.

Meski saya akui ada kebaikan lain yang didapat dari setiap permainan yang mereka kuasai dari alat ini. Kosa kata bahasa Inggris mereka lumayan bertambah, karena selama saya dampingi, mereka akan bertanya apa arti dari perintah yang muncul dari setiap permainan.

Pemahaman ia akan teknologi informasi cukup baik di usianya yang masih anak-anak. Saya juga sudah mengajarkan anak-anak saya bagaimana berinternet dengan baik kepada mereka.

Pada sisi ini, alhamdulillah tak ada masalah. Malah anak yang paling gede diam-diam menulis catatan pribadi di laptop saya. Itu saya temukan satu file microsoftword tentang ia dan pelajaran harian di sekolah.

Nah, kembali ke masalah negatif permaianan game, saya mulai cari informasi dari perubahan perilaku ini. Saya baca, saya tanya, dan saya amati orang-orang dengan perubahan ini.

Lalu saya berkesimpulan. PS dan permainan game lainnya memang merusak anak, apalagi tanpa pengawasan. Saya dengan pengawasan ekstra ketat pun, beginilah kejadiannya. Anak agresif, pemarah, dan malas belajar. Hafalan Alqurannya mulai menurun.

Kemarin, saya bawa anak ke tempat Klinik Rukyah. Meski saya pernah belajar dan peran merukyah sendiri, tapi tetap saya perlu bantuan kawan di klinik rukyah.

Sore kemarin anak saya dirukyah. Saat dibacakan ayat-ayat rukyah, ia langsung merunduk tertidur pulas. Hingga proses selesai selama kurang lebih 30 menit, ia masih tertidur, keringatnya terlihat di kening dan leher bercucuran.

Saat ia bangun, ia langsung minta bergolek, rebahan di lantai. Suasana hening, ia jadi terdiam dan tiduran.

Sambil berbincang dengan ustadz yang merukyah, anak saya terlihat tertidur cukup nyaman. Ustadz pun bercerita, di Banda Aceh sudah banyak ia tangani anak dengan kecanduan game. Bahkan penelitian ustadz ini di kampusnya juga tentang perilaku anak akibat keseringan bermain game.

Pagi hingga sore ini, ia mulai berubah. Cenderung diam dan pagi-pagi sudah berangkat ke sekolah. Hati saya terenyuh.. sedih juga melihat anak kembali ke sifat aslinya. Seharian tadi, saya manjakan dia dengan apa yang ia minta selain permainan game.
Makan minum dan jajanan kesukaan ia. Saya kecup dia dan elus-elus kepalanya. Saya bilang, "yang rajin ya nak, sekolah. Jadi anak sholeh," ia mengangguk, jawaban atas pertanyaan saya pun dia jawab dengan kalem.

Saat ia merajuk hanya menangis saja, sementara seminggu yang lalu ia akan melempar benda apa saja yang dia dapat di depannya.

Saya terlambat dan hampir menjerumuskan masa depan anak saya ke kehidupan yang tak karuan akibat pengaruh game bagi anak-anak. Bersyukur, Allah Swt cepat menegur saya dengan perubahan perilaku yang dilihatkan anak saya setahun terakhir.

Teman-teman, sahabat sekalian. Yang punya pengalaman seperti saya. Saya sarankan segera hentikan kebiasaan anak-anak main game apalagi tanpa pengawasan kita. Televisi pun jika tidak sangat mendesak, sebaiknya digudangkan saja.

Mari lebih dekat ke mereka anak-anak kita dengan permainan ala kampung seperti zaman dahulu kita. Anak saya minta bola untuk bermain bola dan ingin bersepeda dan ini saya kabulkan.

Seraya berdoa semoga mereka lebih baik dan tak kembali ke permainan game. Amiin.
Banda Aceh, 13 Agustus 2015

Post a Comment

Previous Post Next Post