Kota Seribu Toko


Banda Aceh hari ini adalah warisan leluhur raja kita di zaman kesultanan Aceh. Maka dari itu, nama Banda Aceh dulu adalah Koetaradja alias kota dimana di sana tinggal sang Raja. Usia Banda Aceh sudah 803 tahun. Dalam rentang waktu tersebut tentu banyak perubahan yang terjadi di Banda Aceh. Ada slogan yang sempat diusung ketika memeriahkan ulang tahun Kota Banda Aceh, yaitu Kota Tua Warisan Raja. Tentunya, Sang Raja mewariskan banyak hal untuk anak cucunya yang hidup di kemudian hari, misalnya dengan menanam banyak pohon agar Koetaradja terlihat hijau dan terasa sejuk. Ketika Sang Raja mewariskan sesuatu seperti menanam pohon, tentu Sang Raja paham betul bahwa ketika pohon itu besar dan menjadi rindang, dirinya tidak mungkin merasakan kesejukan dari rindangnya pepohonan di sepanjang jalan di Banda Aceh. Konon, Belanda yang pernah menginjakkan kakinya di kota ini, juga sempat merasakan sejuk dan hijaunya Kota Banda Aceh. Bahkan, mereka yang secara terang- terangan menerapkan hegemoninya (menjajah) di Aceh tidak pernah membiarkan kota tua ini kehilangan seribu pohon yang rindang di berbagai sudut kota.
Itu cerita lama Kota Tua Warisan Raja. Hari ini cerita itu tinggal kenangan. Pascatsunami, kota tua ini tidak lagi sejuk dan rindang dengan pepohonan. Ada yang memberi alasan bahwa banyak pohon tumbang tergerus tsunami. Tetapi, coba teliti ulang benarkah tsunami memusnahkan semuanya? Sepertinya tidak! Masih ada sisa-sisa kerindangan warisan tsunami.
Sejatinya, di masa awal rekonstruksi Pemerintah Kota Banda Aceh memiliki perencanaan yang matang dalam membangun kembali Banda Aceh sebagai kota tua warisan raja. Artinya, ketika kembali membangun Banda Aceh dari nol, pemerintah semestinya paham dan tahu diri untuk membangun Banda Aceh yang lebih memperhatikan sisi keindahan tata letak kota plus aspek- aspek yang berpengaruh terhadap alam dan lingkungan kota. Sayangnya, semua itu tidak terlalu diperhatikan.
Masa rekonstruksi memang memberikan harapan baru bagi masyarakat Aceh, terutama dalam perbaikan ekonomi. Pekerja dari luar Aceh pun berdatangan kemari, karena tersedia peluang besar mencari celah sumber uang.
Membangun tempat usahanya misalnya, menjadi harapan baru memperbaiki nasib setelah terpuruk oleh tsunami. Tetapi, di sini pun tidak ada kontrol ketat dari Pemerintah Kota Banda Aceh. Jika mau jujur, coba berkeliling kota mulai dari arah Darussalam--atau arah sebaliknya--hingga ke pelosok Kota Banda Aceh. Maka yang kita dapati adalah deretan panjang sejumlah rumah toko (ruko) baru yang dibangun tanpa kejelasan status IMB-nya. Ukuran bangunan dan bentuknya suka-suka yang bangun. Ada pula yang ditelantarkan oleh pemiliknya. Seharusnya, ini diatur dan dikontrol. Pertokan hanya boleh dibangun di kawasan perdagangan dan jasa. Bukan di permukiman penduduk, apalagi di kawasan yang diperuntukkan sebagai taman kota.
Ini pula yang menyebabkan Banda Aceh tidak lagi sedap dipandang mata dan berisiko terjadi bencana, setidaknya musibah banjir. Di pusat kota, di sekiling Masjid Raya kita akan mendapati pemandangan sumpek dengan pedagang kagetan. Apalagi saat tiba malam hari, wajah trotoar depan Masjid Raya telah penuh dengan pajangan sepatu.
Ruko-ruko yang baru dibangun menjulang dengan megahnya, beberapa di antaranya berdiri di ruas-ruas utama jalanan Banda Aceh. Dari arah Darussalam hingga simpang Jambo Tape, kita disuguhi bangunan baru yang sedang dalam proses pembangunan. Masalahnya, lahan resapan air nyaris hilang. Alhasil, ketika hujan mengguyur Banda Aceh genangan air terjadi di mana-mana. Kita pun tidak tahu apa yang akan terjadi 5-10 tahun mendatang, ketika kota tua ini disuguhi bangunan toko di mana-mana.
Pemerintah Kota Banda Aceh, sepertinya masih lebih tertarik kepada pembangunan infrastruktur di mana-mana tanpa perlu menata kota. Alhasil, jika kita berjalan-jalan mengelilingi Kota Banda Aceh maka terbentuklah sebuah pemandangan di hadapan kita, sebuah kota seribu toko. Sah-sah saja jika orang memplesetkan sebuah nyanyian untuk Banda Aceh, "Sambung menyambung menjadi toko, itulah Banda Aceh..."

Post a Comment

Previous Post Next Post