Aceh Di Simpang Jalan


Aksi penculikan, pembunuhan, dan tindakan kriminal bersenjata lainnya yang menyebabkan hilangnya nyawa orang, telah menjadi hiasan rutin media massa di Aceh. Saban pagi, masyarakat disuguhi fakta kejahatan yang terjadi di sejumlah wilayah di Aceh. Desingan peluru yang seharusnya tidak lagi menyalak di era damai ini, kembali menghiasi wajah negeri ini. Saat ini, Aceh berada di simpang jalan, proses damai yang sedang dirajut ini memerlukan banyak perhatian sejumlah pihak agar berbagai kasus yang terjadi tidak mencedarai semangat damai, sehingga nantinya Aceh sukses menepi di titian cita-cita.
Kondisi yang kembali memanas dengan berbagai aksi kriminal bersenjata ini, sudah barang tentu tidak berdiri sendiri. Ada banyak faktor kenapa sebagian masyarakat kita mengambil langkah salah dalam menyiasati hidup. Meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun, suka atau tidak, telah mempersulit gerak manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Persaingan antar individu semakin ketat, menjadikan manusia sering melakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya. Akibatnya pencurian, perampokan, korupsi, manipulasi, intimidasi dan berbagai kejahatan sosial terjadi dimana-mana. Dalam situasi seperti ini sangat sulit untuk mengendalikan kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Nilai-nilai luhur budaya Aceh luntur seiring dengan perkembangan budaya hedonisme, materialisme dan konsumerisme.
Manusia telah kehilangan jati dirinya, begitu kata Sosiolog, Eric Fromm (1996), manusia telah beralih menjadi mesin yang tidak berfikir dan tidak berperasaan. Segala aktivitas manusia telah digantikan oleh mesin yang serba cepat. Manusia semakin malas melakukan hal-hal fisik, tetapi mereka ingin menikmati kemudahan dan kemewahan hidup. Akibatnya bagi mereka yang tidak mampu mengikuti perkembangan, tidak ada jalan lain kecuali melakukan tindakan-tindakan amoral demi tercapainya tujuan itu.
Jika Eric Fromm menyatakan manusia telah kehilangan jati dirinya, maka salah seorang tokoh adat kita, Tgk H Badruzzaman Ismail, menyatakan orang-orang Aceh yang berbuat dzalim, yang berbuat kejahatan adalah mereka yang telah kehilangan semangat keacehannya. Nilai-nilai luhur ajaran agama dan budaya Aceh tidak lagi menjadi barometer dalam menjalani hidupnya. Dengan tegas, Badruzaman menyatakan para pelaku kriminal itu adalah orang-orang yang lupa diri. Mereka tidak tahu siapa dan dari mana mereka berasal.
Aceh hari ini tentunya tidak terlepas dari jejak masa lalu. 30 tahun lebih hidup dalam suasana konflik telah membuat strata budaya Aceh berantakan. Perangkat-perangkat budaya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Ini yang kemudian memunculkan manusia-manusia Aceh yang lupa akan jati dirinya.
Identitas dan jati diri bangsa Aceh telah luntur bersamaan dengan egoisme materialistik yang menjangkiti manusia moderen. Nilai luhur bangsa Aceh yang mengagungkan kejujuran, kesabaran dan ketulusan telah hilang digantikan oleh budaya angkuh dan individualistis yang diajarkan oleh masyarakat barat.
Seperti apa yang dikatakan Eric From (2001), bahwa manusia sering bersifat syirik terhadap barang-barang ciptaannya sendiri. Manusia akan merasa lebih terhormat dan memiliki harga diri setelah memiliki barang-barang mewah. Harta, kendaraan dan kedudukan merupakan barang yang dianggap bisa mengangkat harga diri seseorang di masyarakat. Akibat dari sifat ingin diakui terjadilah persinggungan di dalam kehidupan sosial. Hubungan antara orang kaya dan orang miskin tidak harmonis. Mereka berlomba-lomba mencari kekayaan sebanyak-banyaknya. Demi untuk memenuhi kebutuhan ruh mereka yang gersang.
Perbedaan kepemilikan dan tingkat pendidikan telah membentuk sekat- sekat sosial yang tidak baik. Komunikasi tidak lancar sehingga kontrol sosial pun menjadi lemah. Hal inilah yang menyebabkan rusaknya moral bangsa. Hari ini, Aceh sedang berada di persimpangan jalan, dalam kondisi seperti ini rasanya perlu segera menata ulang perangkat budaya dan agama yang sudah lama melekat dalam keseharian masyarakat kita.

Post a Comment

أحدث أقدم